Minggu, 15 September 2013

Pengamat atau Perubah?


           Dulu, saat gue kecil Mama gue pernah bercerita tentang negri bernama Far-Far-Away. Sebuah negri yang amat besar dan hebat. Seluruh penjuru dunia tau tentang kemasyuran negri ini.
           Sampai, Suatu ketika negri ini di hadapi dengan masalah yang besar.
Bahkan Far-Far-Away sudah membayar mahal sekali pahlawan dari negri sebrang dan mengadakan sayembara keseluruh penjuru dunia.

"Barang siapa yang bisa menyelesaikan masalah kemacetan di Negri ini. Akan di berikan imbalan berupa istana besar dan seorang putri yang cantik untuk dijadikan istri. Dan jika dia perempuan makan akan di angkat menjadi anak oleh raja"

Banyak para pahlawan datang dari negri jauh untuk mengikuti sayembara ini. Hasilnya? GAGAL! Belum ada seorang pun yang berhasil. Bahkan sejak 50 tahun sayembara itu di gelar.
      Penduduk  Far-Far-Away mulai resah. Mereka berfikir, buat apa aku membayar pajak untuk ke 10 kereta kuda kencana ku yang sedemikian dan terjebak di kemacetan panjang! Ini sungguh pengeluaran besar yang sia-sia.
Sedikit bocoran, penduduk Far-Far-Away gemar sekali memakai Kereta kencana. Bahkan untuk perjalanan yang jaraknya sangat dekat. Mereka berfikir, Kereta kencana ku adalah status sosial ku.
Opini-opini Penduduk makin tak terbendung.

"Lihat! kita membayar pajak untuk kereta kencana hanya untuk mendapatkan kemacetan? Pasti uang kita diselewengkan. Dasar Negri korup!"

"Kamu cuma 10 kereta? aku 20! Bayangkan berapa banyak uang yang ku sia-siakan hanya untuk membayar pajak!"

"HAH! Dasar Far-Far-Away Bodoh! aku benci harus terjebak selama 30tahun di negri ini!"

"Pemerintah gak becus! Bisa nya tidur saja saat rapat. Hasilnya? ya seperti ini!"

       Far-Far-Away tidak lagi menjadi negri hebat. Mereka sudah terpecah. Tidak ada lagi rasa kepercayaan. Semua mulai mementingkan diri sendiri. Tidak ada lagi rasa kepedulian dan kebiasaan yang dahulu mereka pupuk untuk mempersatukan, menjadikan negeri ini hebat! Ya, semua itu tidak ada. Hilang. Seiring berjalan nya waktu.

* * * * * * *  * * * * * * * * * * * * * * * * *

        70 tahun berlalu. Far-Far-Away tidak mengalami perubahan yang signifikan. Bisa di bilang malah semakin parah. Semua penduduk malah semakin berlomba untuk membeli kereta kencana murah yang 10 tahun belakangan membuka penjualannya di negri ini. Kemacetan? Jangan di tanya. :)

      Sampai suatu saat, Far-Far-Away mendapatkan pemuda desa yang bersedia untuk menyelesaikan masalah ini.
     Beberapa waktu berlalu, kemacetan berangsur berkurang cepat sekali.
Dalam kurun waktu 5 tahun kemacetan sudah hilang sama sekali. Transportasi umum yang disediakan kerajaan mulai di pakai sebagaimana mestinya. Tidak ada lagi antrian kereta kencana yang panjang. Tidak ada lagi polusi kotoran kuda yang berceceran dijalan.
    Raja kagum sekali dengan apa yang pemuda itu lakukan. Bagaimana bisa? 
Pada sore hari yang tenang Raja menanyakan 'Cara'  apa yang digunakan pemuda itu untuk menyelesaikan masalah kemacetan yang sudah mendarah daging ini.
Pemuda desa itu pun hanya tersenyum dan berkata "Tidak ada yang aku lakukan. Aku hanya berkata pada Penduduk, Pengamat, protes sana-sini memang tidak pernah salah, namun pelakulah yang merubah dunia. Saya mengajak mereka semua untuk menjadi perubah. Karna saya tau, kerjaan tidak akan mungkin mampu menyelesaikan masalah ini sendirian"

"Mereka percaya dan menurut begitu saja?" Tanya Raja

"Tentu tidak, bagaimana mungkin semudah itu. Saya menambahakan beberapa kebijakan" Jawab pemuda

"Kebijakan apakah itu?"

"Tingkat keamanan dan kenyamanan transportasi umum ku tingkatkan. Serta menaikan pajak kereta kencana 300% kepada pabrik dan 100% kepada siapa saja yang memilikinya" Ucap pemuda santai

"Bodoh! Kamu benar-benar Bodoh! Bagaimana mungkin!! Bagaimana pula aku tidak menyadari. Kamu tau? Pabrik kereta kencana adalah salah satu pemasukan pajak terbesar! Apa kamu sadar dengan kebijakan itu hanya membuat mereka tidak mau membuka pabrik di negri kita lagi!" Hardik Raja

"Kenapa Raja begitu marah dan takut? Coba lihat pengeluaran apa yang saya telah hilangkan dalam daftar. Pajak yang mereka bayar bahkan tidak akan pernah cukup untuk mengganti apa yang mereka rusak pada negri kita. Maaf atas kebijakan ini. Saya harap Raja mengerti" Ucap pemuda sambil tersenyum dan meninggalkan kerajaan.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * ** * * * * * * * * * * * 

   Yahh.. itu salah satu dongeng yang Mama gue ceritain sebelum tidur. Emang gak sama seperti yang gue ketik. Hahahaha.. Mama gue gak ngerti tentang hal yang berbau kerajaan. Beliau hanya mengerti tentang bagaimana membersarkan anak yang baik dan menjadikan mereka bukan hanya sekedar pengamat atau sekedar sibuk  sana sini menuntut dan menyalahkan orang lain. Tapi, bagaimana mau mengambil resiko,  bertindak dan menjadi perubah :))

Sabtu, 20 April 2013

Antara Kau dan Aku


       Lantai sebelas sepi. Nyaris semua penghuninya keluar makan siang, hanya ada dua-tiga orang saja yang masih berkutat di depan komputer masingmasing. Dan salah dua di antaranya adalah gadis dan pemuda yang duduk jauh berseberangan itu. Terpisah oleh meja-meja dan partisi setinggi pundak, juga dispenser dan printer sentral multi fungsi di tengahtengah ruangan.

Tetapi entah siapa yang menyusun berbagai halangan tersebut, disengaja atau tidak, mereka berdua tetap masih bisa saling melihat dari sela-sela berbagai barang. Untuk ukuran sejauh itu tidak jelas benar memang paras muka masing-masing, tetapi kalian masih bisa dengan mudah memahami gerak tubuh orang di seberangnya.

Seperti yang sedang terjadi saat ini. Gadis itu melirik berkali-kali ke depan, ia sedang menunggu. Menunggu pemuda itu beranjak berdiri, kemudian turun untuk makan siang. Resah sekali ia. Seperti kemarin, hari ini gadis itu ingin berpura-pura tidak sengaja berbarengan turun dengannya. Sedikit saling menyapa di lift, lantas sedikit basa-basi sebelum berpisah menuju tempat makan “favorit” masingmasing. Tetapi nampaknya pemuda itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengakhiri pekerjaannya.

      Detik demi detik, waktu berjalan terasa amat lambat. Istirahat siang tinggal tiga puluh menit lagi. “Ayolah, lakukan saja,” bujuk separuh jantungnya. “Bodoh! Kau hanya akan mempermalukan dirimu saja!” separuh jantungnya lagi menyela dengan sinisnya.

     Dan setelah sekian menit lagi berkutat dengan keraguannya, akhirnya gadis itu nekad memberanikan diri berjalan menghampiri, toh ia bisa berpura-pura menuju toilet yang memang harus melewati meja pemuda itu jika rencananya terpaksa berubah. Sedikit gugup, seperti hari-hari yang lalu, melangkahlah kakinya mendekat.

“Nggak makan siang, Zhar?” gadis itu berusaha menegur senormal mungkin, tersenyum selepas mungkin.

Pemuda itu mengangkat kepalanya. Balas tersenyum. Menggeleng.

“Masih banyak kerjaan. Kamu sendiri, nggak makan?”

“Malas. Nggak ada teman turun!” gadis itu tersenyum mengangkat bahu, menanti harap-harap cemas reaksi pemuda itu. Si pemuda ternyata hanya balas mengangkat bahu,

“Mungkin kamu bisa bareng, Sinta. Kayaknya dia juga belum makan!”

Begitulah.

        Gadis itu sekian detik kecewa, sia-sia sudah, tak ada lagi yang bisa dilakukannya selain beranjak lemah melangkah menuju pintu keluar. “Seharusnya, si bodoh itu bilang, ‘Ah, kebetulan sekali. Aku juga belum makan. Mau kutemani?’ Dasar bodoh!” umpatnya dalam hati. Atau karena ia kurang jelas menyampaikan maksudnya? Seharusnya ia bilang saja langsung, “Kamu mau menemaniku?” seperti yang seringkali dilakukan Susi saat menggoda manajer lantai sepuluh.

Tetapi itu tidak mungkin dilakukannya kan? Ia bukan type Susi yang agresif. “Seharusnya si bodoh itu cukup mengerti,” umpatnya sekali lagi.

                                                                 * * * * * * * * * * * * * *

         Berkali-kali ia melirik gadis di seberangnya. Menunggu tak sabaran. “Kapan lagi ia akan turun makan siang?” serunya dalam diam. Apakah ia harus melangkah mendekatinya, lantas mengajaknya makan siang bersama, seperti yang selalu dianganangankannya? Tidak. Ia tidak pernah memiliki keberanian untuk melakukannya.

Kegelisahaan pemuda itu semakin memuncak, istirahat siang tinggal tiga puluh menit. “Ayolah, berdiri,” mohonnya dalam-dalam. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya.

      Dan akhirnya wanita itu berdiri juga dari tempat duduknya. “Ya Tuhan, semoga ia melewatiku. Please, God!” si pemuda bersorak penuh harap. Tentu saja gadis itu harus melewatinya, karena pintu keluar terletak dekat mejanya.

    Suara sepatu gadis itu terdengar memenuhi gendang telinganya. Si pemuda dengan segala upaya terus berpura-pura menatap layar komputer, mengisikan sembarang angka ke dalam kotak kosong. Tentu saja semua pekerjaannya sudah rampung setengah jam yang lalu. Sedari tadi ia sudah ingin turun makan siang, tetapi seperti dua hari lalu, ia ingin sekali berpura-pura tidak sengaja berbarengan turun dengannya. Sedikit saling menyapa di lift, lantas sedikit basa-basi sebelum berpisah menuju tempat makan “favorit” masing-masing.

Gadis itu semakin dekat, detak jantung si pemuda semakin kencang. Ia bersiap-siap hendak bangkit dari duduknya. Paling sial jika ia tidak berani mengikutinya, mungkin ia bisa berpura-pura menuju toilet, bukankah letaknya searah dengan pintu lift? Yang penting ia bisa sekadar tersenyum menyapanya.

“Nggak makan siang, Zhar?” ternyata gadis itu justru menegurnya, sambil tersenyum.

Meluncurlah sepuluh kembang api besar di jantung si pemuda. Ini diluar rencananya, apalagi dengan senyum itu. Ya Tuhan, gelagapan si pemuda bingung hendak menjawab apa.

“Masih banyak kerjaan. Kamu sendiri, nggak makan?”

Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Sekadar menggeleng patah-patah, dan tersenyum dengan muka kebas. “Semoga ia tidak melihat tampang tololku,” keluh pemuda itu dalam hati.

“Malas. Nggak ada teman turun!” gadis itu tersenyum sambil mengangkat bahu.

Separuh jantungnya sontak berteriak, come on man, sekaranglah waktunya, ajak ia makan siang bersama. Bukankah ia “mengundang”mu? Tetapi separuh jantungnya yang lain gemetar tak tahu harus bilang apa. Senyuman dan kerlingan gadis itu telah mematikan otaknya berpikir, dan di tengah kegaguan ia justru berkata, “Mungkin kamu bisa bareng, Sinta. Kayaknya dia juga belum makan!”

Ya ampun, apa yang telah kukatakan, si pemuda menekuk lututnya. Perutnya tiba-tiba melilit menyesali kebodohannya. Dan gadis itu dengan amat anggun hilang dari pandangan.

                                                  * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

         Hari ini jum’at. Besok dan lusa libur. Gadis itu sudah merencanakan untuk berlibur keluar kota, tapi undangan pernikahan anak direktur membatalkan rencananya. Lagipula bukankah itu berarti semua orang akan hadir di sana, dan jika semua orang hadir itu berarti pemuda itu juga akan datang. Ia senyumsenyum sendiri. Otaknya terbungkus oleh harapanharapan.

Setidak-tidaknya di sana ia bisa mencari berbagai alasan untuk duduk di dekatnya. Berbincang tentang apa saja. Dan jika sedikit beruntung mungkin saja bisa pergi-pulang ke tempat pesta bersama-sama. Membayangkannya saja gadis itu sudah tidak bisa berkata-kata lagi.

Tetapi semenjak undangan itu dibagikan seminggu yang lalu, pemuda itu dalam sedikit kesempatan mereka bertemu di lift saat berangkat kerja (ia sengaja menunggu di lobby sampai pemuda itu tiba), saat makan siang, dan saat pulang kerja (ia sengaja menunggu pemuda itu membereskan mejanya sebelum turun pulang) pemuda itu sedikit pun tidak pernah menyinggung soal pesta pernikahan. Bagaimana hendak menyinggungnya, jika selama ini mereka sekadar saling ber-hai apa kabar saja. Berkali-kali gadis itu membujuk jantungnya agar berani bertanya, “Minggu depan, kamu datang gak ke tempat pernikahan Vania?” tapi ia selalu gagal.

         Jum’at semakin senja. Kesempatannya untuk menjadikan mimpi-mimpi itu menjadi nyata semakin tipis. Ia harus melakukannya jika tidak maka musnah sama sekali harapan itu. Dan setelah bergulat habishabisan meneguhkan diri, gadis itu beranjak mendekati pemuda itu. Gemetar kakinya melangkah, “Ya Tuhan, tolonglah….” seru batinnya lirih.

“Hai, Zhar. Kamu lagi sibuk?”

Kentara sekali kata-katanya bergetar saking gugupnya. Gadis itu membujuk jantungnya segera tenang. Tersenyum amat kaku. Pemuda itu mengangkat kepalanya, balas tersenyum. Menghembuskan nafasnya dalam-dalam.

“Iya nih. Kayaknya aku lembur malam ini!”

“Kamu hari minggu datang ke resepsi Vania, gak?”

Gadis itu berdiri sambil diam-diam menyilangkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Please, God.

“Belum tahu. Lihat besok. Kamu nggak kesana?”

“Belum ada teman. Malas kalau sendirian!”

Ya Tuhan, orang bodoh sekali pun tahu apa maksud hatinya. Tetapi pemuda itu hanya menatapnya lamat-lamat, kemudian sambil menggeleng, pelan berkata,

“Si Sinta katanya harus menjenguk ibunya!”

Lumat sudah harapan gadis itu, dengan lemah ia berkata, “Ya, ibunya sakit, sepertinya aku harus berangkat sendirian.”

“Dasar bodoh. Bodoh. Bodoh sekali,” umpat gadis itu dalam hati. Jika sudah begini apalagi yang harus dilakukannya?

“Hai, Dahlia. Kamu belum punya teman pergi ke pernikahan Vania?” pemuda lain yang dari tadi berdiri membereskan berkas di mejanya, di sebelah mereka, menyela pembicaraan. Gadis dan pemuda itu menoleh serempak ke muasal suara. Andrei, nama pemuda itu, dan ia tersenyum jantan mendekati Dahlia.

“Aku juga belum punya barengan. Kamu mau bareng aku? Bagaimana? Nanti aku jemput kamu pagi-pagi ya!”

Gadis itu hendak mengangkat bahunya: keberatan. Tetapi hatinya yang berkali-kali mengumpat, “Dasar bodoh, harusnya kau melakukannya seperti Andrei. Harusnya kau menyela dan berkata, ‘ia tidak akan pergi bersamamu, ia akan pergi bersamaku’” kesal sekali, dan tanpa disadarinya ia justeru menganggukkan kepalanya. Andrei tersenyum senang, sambil memegang bahu gadis itu ia berkata menggoda, “Oke, sayang. Sampai ketemu hari minggu! Jangan lupa, dandan yang cantik.”

                                                                     * * * * * * * * * * * * * * * * * *

             Hari ini jum’at. Besok dan lusa libur. Sudah seminggu ini pemuda itu menanti-nanti kesempatan untuk bertemu lebih lama dengan gadis itu, sekadar untuk bilang, “Hai, kamu mau pergi bareng aku ke pernikahan Vania, gak?” ia butuh waktu kurang lebih lima menit untuk berbincang dan mengajaknya pergi bersama.

Dengan hanya bertemu di lift saat berangkat kerja (ia sengaja menunggu di lobby sampai gadis itu tiba), saat makan siang, dan saat pulang kerja (ia sengaja menunggu gadis itu membereskan mejanya sebelum beranjak turun) itu sama sekali tidak cukup untuk membicarakan masalah ini. Apalagi mereka hanya saling ber-hai apa kabar, tersenyum kaku, lantas berdiam diri dalam dengungan suara lift yang bergerak.

Berkali-kali ia membujuk jantungnya untuk mendekati meja gadis itu. Bertanya langsung padanya, “Apakah kau mau pergi bersamaku,” tapi berkali-kali pula ia gagal meneguhkan diri. Sore jum’at semakin senja. Kesempatannya untuk menjadikan mimpi-mimpi itu menjadi nyata semakin tipis. Ia harus melakukannya, jika tidak ia akan menyesalinya seumur hidup. “Lakukan sekarang juga, Zhar,” bisikan itu semakin kencang.

Dan pemuda itu di ujung keputus-asaan akhirnya nekad juga memutuskan. Tetapi saat ia siap berdiri dari duduknya, gadis itu justeru terlihat berdiri dari mejanya. Melangkah menujunya. “Ya Tuhan, semoga ia melewatiku, please God.” Desak batinnya kuat-kuat. “Jika ia melewatiku, aku berjanji akan menanyakan soal itu,” janjinya untuk kesekian kali.

Suara sepatu gadis itu terdengar semakin keras di telinganya. Ia semakin dekat, dan debar jantungnya semakin kencang. Dengan meneguhkan hati pemuda itu bersiap untuk menyapa,

“Hai, Zhar. Kamu lagi sibuk?”

Gadis itu sambil tersenyum ternyata lebih dahulu menyapanya. Pemuda itu kaku seketika. Kata-katanya hilang menyentuh udara. Berusaha tersenyum senormal mungkin. Menarik nafas dalamdalam.

“Iya nih. Kayaknya aku lembur malam ini!” Ya Tuhan, padahal pekerjaan untuk minggu depan pun sudah kurampungkan.

“Kamu hari minggu datang ke resepsi Vania, gak?”

Gadis itu tersenyum semakin manis. Pemuda itu duduk semakin kebas. Ayolah katakan. Ajak dia. Ayolah katakan. Tetapi separuh jantungnya yang lain gemetar ketakutan. Kau hanya akan mempermalukan diri sendiri, bodoh. Bagaimana kalau dia menolak?

“Belum tahu. Lihat besok. Kamu nggak kesana?”

Ya Tuhan, apa yang telah kukatakan, pemuda itu mengumpat berkali-kali. Seharusnya langsung saja mengajaknya pergi bersama. Senyuman gadis ini membuatnya sedikit pun tidak bisa berpikir sehat lagi.

“Belum ada teman. Malas kalau sendirian!”

Ayolah katakan. Ajak dia. Bukankah ia telah memberikan kode padamu. Sedikit lagi.... tak terlalu susah. Pemuda itu mencengkeram keras-keras kursinya. Apa sulitnya mengatakan itu, bentak separuh jantungnya. Dan tanpa ia sadari, di tengah usahanya membujuk separuh jantungnya yang lain, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia teringat Sinta, mungkin dengan menyela pembicaraan ini dengan kabar soal Sinta akan sedikit membantu, maka tanpa menyadari akibatnya sedikit pun pemuda itu justeru berkata,

“Si Sinta katanya harus menjenguk ibunya!”

Tidak. Ia sama sekali tidak bermaksud menolaknya. Tetapi gadis itu dengan tetap tersenyum berkata pelan, “Ya, katanya sakit, sepertinya aku harus berangkat sendirian.”

Ya Tuhan, kerusakan apa yang telah kuperbuat?

“Hai, Dahlia. Kamu belum punya teman pergi ke pernikahan Vania?” pemuda lain yang dari tadi berdiri membereskan berkas di mejanya, di sebelah mereka, menyela pembicaraan. Gadis dan pemuda itu menoleh serempak ke muasal suara. Andrei, nama pemuda itu, dan ia tersenyum jantan mendekati Dahlia. “Aku juga belum punya barengan. Kamu mau bareng aku? Bagaimana? Nanti aku jemput kamu pagi-pagi ya!”

“Tolonglah. Jangan. Jangan katakan setuju,” pemuda itu memohon dalam hatinya. “Jangan sampai kau pergi dengan bajingan ini. Ia playboy kelas kakap, dan kau akan terperangkap.” Tetapi gadis itu justeru tersenyum menganggukan kepalanya.

Andrei tersenyum senang, sambil memegang bahu gadis itu ia berkata menggoda, “Oke, sayang. Sampai ketemu hari minggu! Jangan lupa dandan yang cantik.”

                                                                 * * * * * * * * * * * * *

         Ia mengharapkan pagi ini pemuda itu yang datang menjemputnya. Tetapi justru Andrei yang datang parlente memencet bel. Tak tahu malu, Andrei mengaku sebagai pacarnya. Dan gadis itu dengan terpaksa tersenyum masam menanggapi godaan ibu dan bapaknya, “Akhirnya, anak gadis kami pergi dengan teman lelakinya. Nak Andrei jangan sampai kau membuatnya menangis, loh!” Itu kata ayah gadis itu sambil tersenyum di balik pagar. Dan pemuda playboy ini tersenyum begitu meyakinkan menggandengnya.

Semua teman kantor bersuit saat melihat mereka tiba di ruang resepsi, Susi pun sempat berbisik pelan, “Gila lu, katanya pemalu. Ternyata yang kakap begini berhasil juga lu gaet!” mukanya memerah. Dengan tingkah laku Andrei yang sangat berpengalaman, gadis itu merasa di dahinya seakanakan tertempel baliho besar yang menunjukkan kalau mereka berdua benar-benar pasangan hebat. “Bodoh, seharusnya kaulah yang bersamaku sekarang,” umpatnya dalam hati, mencari sosok pemuda itu dalam keramaian. Dan si bodoh itu ternyata berdiri tak acuhnya di pojok ruangan. Menyendok koktail. Seolah tak peduli kehebohan yang sedang terjadi.

Ketika tiba saatnya berfoto, semua teman-teman berkumpul di sebelah panggung, bersiap menunggu MC menyebutkan giliran mereka: lantai sebelas. Ketika olok-olok semakin ramai saat mereka berkumpul, si bodoh ini justeru semakin tak peduli.

“Ah ini dia si Azhar, kamu udah lihat Dahlia kan. Gila, serasi bukan!”
“Seharusnya kau menirunya Zhar. Pendiam, tapi diam-diam bawa gebetan!”
Yang lain tertawa ramai sekali.
“Andrei, kalau lu sedikit saja membuat Dahlia menangis, kutikam kau!” seru seseorang lagi, dan Andrei sambil merengkuh bahu Dahlia tersenyum lebar, seolah menunjukkan, jangankan menangis, membuatnya murung saja takkan ia lakukan.

Gadis itu kusut sekali dengan senyum tanggungnya. Berkali-kali ia melirik pemuda itu. “Ya Tuhan, seharusnya yang kau lakukan saat ini memegang kerah Andrei, dan menonjoknya kuatkuat, dasar bodoh, dan bukan justru sebaliknya ikutikutan tertawa.”

Gadis itu tersenyum getir.

                                                                 * *  * * * * * * * * *

       Pagi ini seharusnya ia-lah yang sambil bersiul datang memencet bel rumah gadis itu. Tersenyum takzim menyapa calon mertua. Tetapi lihatlah, ia justeru kacau berdandan seadanya, memakai kemejakusut dasi-berdebu, berjalan gontai menghidupkan kendaraan, berpikir gadis itu pasti sedang tertawa bahagia bersama playboy kelas kakap itu.

Semua teman kantor bersuit saat melihat mereka tiba di ruang resepsi. Dengan tingkah laku Andrei yang sangat berpengalaman, mereka benar-benar kelihatan seperti pasangan hebat. Gadis itu terlihat tersenyum kemana-mana, mengumbar kebahagiannya. “Begitu mudahkah ia terpikat dengan playboy itu?” dengan masam pemuda itu menyendok koktail di pojok ruangan. Jantungnya pedih sekali.

Ketika tiba saatnya berfoto, semua teman-teman berkumpul di sebelah panggung, bersiap menunggu MC menyebutkan giliran mereka: lantai sebelas. Ketika olok-olok semakin ramai ketika mereka berkumpul, gadis itu justeru terlihat tersenyum semakin bahagia. “Ia benar-benar menikmatinya,” bisiknya lirih.

“Ah ini dia si Azhar, kamu udah lihat Dahlia kan. Gila, serasi bukan!”
“Seharusnya kau menirunya Zhar. Pendiam, tapi diam-diam bawa gebetan!”
Yang lain tertawa ramai sekali.
“Andrei, kalau lu sedikit saja membuat Dahlia menangis, kutikam kau!” seru seseorang lagi, dan Andrei sambil merengkuh bahu Dahlia tersenyum lebar, seolah menunjukkan, jangankan menangis, membuatnya murung saja takkan ia lakukan.

Gadis itu tersenyum, semakin mengembang. “Bah. Ia sedikit pun sama sekali tidak menatapku,” bisik pemuda itu dalam hening. Berkali-kali melirik mencoba memberikan kode. “Lihatlah aku, Dahlia. Please. Bukankah aku lebih baik darinya? Sesungguhnya apa yang kau cari?” terluka pemuda itu meratap dalam diam. Dan ketika mereka berfoto bersama. Bajingan itu merengkuh lebih erat lagi bahu gadis itu.

Dan ketika semua teman-teman lantai sebelas turun, mereka berdua masih berdiri di sana, berfoto berempat bersama kedua mempelai. Gadis itu sekali lagi tersenyum amat bahagia. “Senyum mempelai wanita saja kalah,” umpat pemuda itu dalam hati. Maka semenjak detik itu, si pemuda dengan jantung tercabik-cabik mengubur dalam-dalam segenap cintanya.

“Cinta memang tak pernah adil,” keluhnya terluka.




Extended:

“Hai!” Gadis itu tersenyum.
“Hai!” Pemuda itu juga tersenyum.
Pintu lift menutup pelan. Keheningan kemudian menyelimuti. Tak pernah ada yang bisa mendengar dengung lift bergerak, tetapi bagi mereka berdua yang sedang takzimnya, bekas telapak tangan di kaca lift pun terlihat amat jelas. Si gadis sembunyisembunyi melirik. Si pemuda batuk-batuk kecil berusaha mengendalikan perasaannya. Mereka bertatapan sejenak. Gelagapan bersama.
“E, mau makan di mana?” si pemuda pura-pura merapikan dasinya. Mukanya merah kebas. Ia tahu persis gadis itu selalu makan di basemen itu. Gadis itu juga tahu persis pemuda itu lebih suka makan di lantai satu.
“Lanti satu! Lu, mau makan dimana, Zhar?”
“Basemen!” Ya ampun, ia sungguh tak tahu kenapa kalimat itu yang keluar dari mulutnya.
Basa-basi saling melambaikan tangan, mereka berpisah saat pintu lift terbuka. Berharap seharusnya mereka saat ini justeru sedang bergandengan menuju kafe di menara atas.
Kafe para pencinta.





-Darwis Tere Liye-

Everlasting



           Saat kita sedang sendiri, kesepian, dalam masalah, membutuhkan teman, lantas teringat dengan seseorang, berharap banyak dia akan membantu, atau setidaknya mengusir sedikit gundah-gulana. Apakah itu disebut cinta? Tentu saja. Tetapi kalau demikian, bukankah cinta jadi tidak lebih dari seperangkat obat? Alat medis penyembuh? Selesai malasahnya, saat kita kembali semangat,sembuh, maka persis seperti botol-botol obat, seseorang itu bisa segera disingkirkan. Sementara, dong? Temporer? Juga tentu saja, kecuali kita selalu sakit berkepanjangan, dan mulai mengalami ketergantungan dengan seseorang tersebut. Jika demikian maka cinta jadi mirip nikotin, candu.

Saat kita ingin selalu bersamanya, selalu ingin didekatnya, selalu ingin melihat wajahnya, senyumnya, nyengirnya, bahkan gerakan tangan, gesture, bla-bl-bla. Ingin mendengar suaranya (meski suaranya fals), tawanya (walau tawanya cempreng); apakah itu disebut cinta? Tentu saja. Bagaimana mungkin bukan cinta? Tetapi kalau hanya demikian, maka bawakan saja imitasi seseorang itu ke rumah, taruh seperti koleksi patung, jika ingin mendengar tawanya, stel sedemikian rupa biar dia tertawa, ingin melihat dia bicara, stel agar dia bicara. Bukankah hari ini sudah banyak teknologi imitasi seperti ini? Apakah itu akan berlangsung sementara? Boleh jadi, karena persis seperti kolektor yang memiliki koleksi benda antik, seberapapun berharganya, cepat atau lambat rasa bosan akan tiba. Bisa sih disiasati dengan jarang-jarang melihat koleksi tersebut, jarang-jarang bertemu biar terus kangen dan rindu, aduh, kalau demikian, maka cinta jadi sesuatu yang kontradiktif, bukankah tadi dibilang ingin selalu bersamanya.

Saat kita terpesona melihatnya, kagum menatapnya, begitu hebat, keren, terlihat berbeda, cantik, gagah, dan bla-bla-bla. Apakah itu disebut cinta? Bisa jadi. Tapi jika demikian cinta tak lebih seperti pengidolaan, keterpesonaan. Jika demikian, solusinya mudah, pasang saja posternya besar-besar di kamar. Jika kangen, tatap sambil tersenyum. Taruh foto-fotonya di mana-mana. Selesai urusannya. Apakah ini sementara? Temporer? Tentu saja. Saat idola baru yang lebih keren tiba, saat sosok baru yang lebih hebat datang, maka idola lama akan tersingkirkan. Jika demikian, maka cinta tak ubahnya seperti lagu pop, cepat datang cepat pergi. Persis seperti anggota boyband di tahun 80-an, basi di tahun 90-an, dan anggota boyband di tahun 2012, dijamin basi banget di tahun 2030.

Saat kita tergila-gila, selalu ingat dengannya, tidak bisa tidur, tidak bisa makan, berpikir jangan-jangan kita kehilangan akal sehat, apakah itu disebut cinta? Tentu saja. Tapi jika demikian cinta, maka ia tak lebih dari simptom penyakit psikis? Sama persis seperti penjahat yang jadi buronan, juga tidak bisa tidur, susah makan, dan terkadang berpikir kenapa ia bisa kehilangan akal sehat menjadi penjahat. Sementara? Temporer? Tentu saja. Waktu selalu bisa mengubur seluruh kesedihan.

Hampir kebanyakan orang akan bilang: “Saya tidak pernah tahu kapan perasaan itu datang. Tiba-tiba sudah hadirlah ia di hati.” Ada sih yg jelas-jelas mengaku kalau dia cinta pada pandangan pertama; sekali lihat, langsung berdentum hatinya. Tapi di luar itu, meskipun benar-benar pada pandangan pertama, kita kebanyakan tidak tahu kapan detik, menit, jam, atau harinya kapan semua mulai bersemi. Semua tiba-tiba sudah terasasomething happen in my heart.

Terlepas dari tidak tahunya kita kapan perasaan itu muncul, kabar baiknya kita semua hampir bisa menjelaskan muasal kenapanya. Ada yg jatuh cinta karena seseorang itu perhatian, seseorang itu cantik, seseorang itu dewasa, rasa kagum, membutuhkan, senang bersamanya, nyambung, senasib, dan seterusnya, dan seterusnya. Dan di antara definisi kenapa tersebut, ada yang segera tahu persis kalau itu sungguh cinta, ada juga yang berkutat begitu lama memilah-milah, mencoba mencari penjelasan yg akan membuatnya nyaman dan yakin, ada juga yang dalam situasi terus-menerus justeru tdk tahu atau tidak menyadarinya kalau semua itu cinta.

Cinta sungguh memiliki begitu banyak pintu untuk datang. Kebanyakan dari “mata”, mungkin 90%. Sisanya dari “telinga”. Dari bacaan (membaca sesuatu darinya), dari kebersamaan, dari cerita orang lain. Dari mana saja. Lantas otak akan mengolahnya, mendefinisikannya menjadi: sayang, kagum, terpesona, dekat, cantik, ganteng, cerdas, baik, lucu, dan seterusnya. Kemudian hati akan menjadi pabrik terakhir yang menentukan: “ya” atau “tidak”. Selesai? Tidak juga, masih ada ruang buat prinsip-prinsip, pemahaman hidup, pengalaman (diri sendiri atau belajar dari pengalaman orang lain) untuk menilai apakah akan menerima kesimpulan hati atau tidak.

Ini proses cinta kebanyakan. Tetapi orang-orang yang paham, maka pintu datangnya cinta bukan sekadar dari mata atau tampilan fisik saja. Proses mereka terbalik, mulai dari memiliki prinsip-prinsip, pemahaman-pemahaman yang baik, lantas hati dan otak akan mengolahnya, baru terakhir mata, telinga dan panca indera menjadi simbolisasi cinta tersebut.

Tetapi apapun pintu dan prosesnya, jika akhirnya semua fase itu terlewati masih ada satu hal penting lainnya yg menghadang. Yaitu kesementaraan. Temporer. Apakah cinta itu perasaan yang bersifat temporer? Kabar buruknya ya. Jangan berdebat soal ini. Sehebat apapun cinta kita, pasti takluk oleh waktu. Tapi kabar baiknya, meski ia bersifat sementara, kita selalu memiliki kesempatan untuk membuatnya ‘abadi’, everlasting. Bagaimana caranya? Dengan pemahaman-pemahaman yang baik. Ada rambu-rambu yang harus dipatuhi, ada nilai-nilai yang harus dihormati. Pasangan yang memiliki hal tersebut, mereka bisa menjadikan perasaan cinta utuh semuanya. Maka abadilah perasaan itu.

Terakhir, saat kita selalu termotivasi untuk terus berbuat baik hari demi hari, memberikan semangat positif, terus memperbaiki diri setiap kali mengingatnya, apakah itu juga disebut cinta? Yaps, inilah hakikat cinta. Saat perasaan itu menjadi energi kebaikan. Dan itu tidak berarti kita harus selalu menyampaikan kalimat itu. Orang-orang yang menyimpan perasaannya, menjaga kehormatan hatinya, dan menjadikan perasaan tersebut sebagai energi memperbaiki diri, maka cinta menjelma menjadi banyak kebaikan.

Apakah itu sementara? Memang sementara, nah, semangat untuk terus memperbaiki diri karena cinta tersebut akan menjadi jaminan keabadiannya. Percayalah, bagi orang-orang yang memiliki pemahaman yang baik, cinta selalu datang di saat yang tepat, momen yang tepat, dan orang yang tepat, semoga semua orang memiliki kesempatan merasakannya.





-Darwis Tere Liye-

Senin, 08 April 2013

Pengkhianatan Pada Tuhan ku.

           Ini post'an kedua gue di blog ini. Judulnya mungkin gak enak atau gak nyambung. Tapi percaya deh, ini bisa jadi masukan buat kalian yang sedang pacaran atau bahkan sudah berencana menikah dengan dua keyakinan yang berbeda dari kedua belah pihak. Dan gue sama sekali gak bermaksud menghancurkan atau membuat kalian gak nyaman. Menulis ini pun bener-bener yang namanya nguras perasaan gue habis-habisan. Jangankan begitu. Dengan ngebaca balik lagi nih cerpen pun gue selalu nangis. Oke-oke pembukaanya udah kepanjangan. Gue cuma berharap paling egak ini berguna buat orang lain. So.. Selamat membaca :)

          Nana baru saja terbangun dari tidur siangnya yang nyeyak. Matahari siang ini sangat terik ternyata, hingga dapat menembus celah mata dan kaca mobil yang ditumpangi. 
"Na.. Ayo bangun sudah sampai"

"Ia ma Nana juga udah bangun kok" Ucap Nana sembari sesekali menguap lebar. 

        Papa yang sedang memastikan parkirannya sudah benar hanya bisa tersenyum melihat putrinya yang sedang beranjak dewasa itu. 
Setelah mesin dimatikan, Nana berjalan keluar dengan susah payah, langsung saja memasuki salah satu kamar yang terdapat dalam rumah di depan mereka. 
Sejuk berhembus yang di hasilkan mesin pendingin ruangan dan di tambah wangi apel adalah hal pertama yang di rasakan Nana kala ia membuka pintu kamar tersebut. 

"Heh! Kamu ngagetin aku aja! Kalo mau masuk ketuk pintu dulu kek, salam kek, apa kek. Main nyelonong masuk kamar orang seenaknya! Kalau aku belum pakai kerudung gimana?!" Seru seorang perempuan yang sebaya dengannya. 

"Hoaammzz.. Sorry.. Sorry.. Efek ngantuk Del." 

       Delisa, Perempuan yang tadi menegur Nana kini tengah sibuk melipat mukena yang baru selesai ia gunakan. "Jadi, mau ngerepotin aku berapa hari kali ini?" Ucap Delisa santai. 

       Nana yang sedang berbaring menatap langit kamar, dengan santai menjawab pertanyaan yang Delisa ajukan. "Mungkin 3 hari. Eh lagian ini kan pertama kalinya aku nginep tauk!.. Biasanya juga kamu yang nginep di rumah aku." 

"Permintaan siapa aku nginep?" 

"Yaa aku juga sih.." ujar Nana mengeyeritkan dahi. " Del, kamu abis sholat kali? Banyak banget mukenanya, ada sarung pula." 

"Ia.. Ini bekas yang lain juga. Eh udah sholat?" 

"Lagi gak sholat. Eh itu yang lain. Maksudnya Om, tante, sama adek kamu?" 

"Siapa lagi?" 

"Ya.. Kali aja sama pak RT juga." Delisa diam sejenak. Kembali menatap kosong langit-langit kamar. "Ng.. Kamu.. Sekeluarga sholat bareng-bareng?" 

*  *  *  *  *  * 

"Ma.. Sudah sampai. Coba bangunin Nana." Ujar papa yang hendak mencari tempat untuk parkir agar tak menghalangi jalan. 

"Na.. Ayo bangun sudah sampai" 

"Ia ma Nana juga udah bangun kok" Ucap Nana sembari sesekali menguap lebar. 

         Papa yang sedang memastikan parkirannya sudah benar hanya bisa tersenyum melihat putrinya yang sedang beranjak dewasa itu. 
Setelah mesin dimatikan Nana berjalan keluar dengan susah payah, langsung saja memasuki salah satu kamar yang terdapat dalam rumah di depan mereka. 

"Kamu sudah bilang sama mas Tyan kalau kita mau dateng ?" 

"Udah kok pa. Udah bilang juga kalo Nana mau nginep." Mama menatap dengan lembut sepasang padangan hangat yang terhalang kacamata bening di hadapanya. 

"Ehem.. Kalian ini. Puasa-puasa masih saja sempat pandang-pandangan seperti itu." Sapa suara yang terdengar begitu mereka kenal. 

"Eh mas Tyan. Assalamualaikum mas." Ucap mama sambil mencium telapak tangan Kakak tercintanya itu. 

"Waalaikumsalam. Kebetulan sekali kalian datang. Jadi bisa bantu-bantu membuat makanan untuk buka. Ahaha. Ayo, ayo masuk. Chris apa kabar kamu?.. Sudah lama rasanya.." 

        Mama langsung masuk saja menuju dapur, dengan maksud tak ingin terlibat dalam obrolan panjang antara suami dan kakaknya. Baru saja melangkahkan kakinya masuk, sudah tercium harum masakan yang begitu menggoda selera. 

"Eh Ri kamu kapan dateng?" sapa perempuan berjilbab yang sedang mengaduk satu panci masakan dihadapanya. 

"Ia mba' baru aja aku dateng. Eh ya sini mba' aku bantu, siapa tahu aku bisa numpang buka puasa disini." seloroh mama santai 

"Ah ahahaha kamu Ri, bisa saja. Oh ya chris mana? Kamu sendiri ke sini?" 

"Enggak mba' aku sama Nana sama Chris juga." 

"Oo.. Sudah kamu sediain minum dulu sana suami mu, oh ya di kulkas juga ada puding buatan mba kemarin. Barangkali dia mau" 

"Baik mba' " Mama langsung saja mengambil sebuah cangkir yang tertata rapi sedemikian rupa dalam lemari kaca. 

*  *  *  *  *  * 

"Ya.. Kali aja sama pak RT juga." Delisa diam sejenak. Kembali menatap kosong langit-langit kamar. "Ng.. Kamu.. sekeluarga sholat bareng-bareng?" 

"Iya.." Kali ini Delisa sedang sibuk merapikan sajadah-sajadah yang menumpuk disampingnya. 

"Setiap hari Del?" Suara Nana memelan 

"Gak tiap hari sih.. Kalo Papa udah pulang ya sekeluarga. Kalo enggak ya sama mama aja Del." 

"Ngg.. Gimana caranya.?" 

"Caranya apa maksud kamu?" suara Delisa terdengar heran, ia menaikan alisnya. 

"Cara sholatnya. Susunannya, doa, adzan, ya gitulah" 

"Ya sama seperti di masjid. Begitu tau waktu sholat, Papa adzan sambil menunggu kita wudhu. Lalu papa memimpin kita. Hmm.. Pertanyaan mu aneh Na sepeti tak pernah sholat sama papa kam..u..." Suara Delisa memelan, menyadari ada kesalahan fatal dari ucapannya. Delisa langsung terdiam. Menatap Nana khawatir yang sedari tadi hanya berbaring sambil menatap langit kosong di kamarnya. 

"Emang aku gak pernah.. Kamu lupa..?" Jawab Nana dengan senyum kecut, dan tanpa ia sadari sudah mengembang air mata di pelupuk matanya. 

"Na.. Aku bener-bener gak maksud.." Delisa sangat bersalah saat itu, hingga suaranya hanya terdengar sepeti suara desahan khawatir. 

Nana memalingkan wajahnya ke arah Delisa sambil tersenyum "Ia Del, aku tau kamu gak sengaja.. Ahaha.. Gak usah gitu ah.. Itu bukan masalah besar buat ku." 

      Hening. Lama sekali. Hanya sesekali terdengar suara mesin pendingin yang memecah keheningan. 
Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. 

"Ng.. Na.. Jadi.. Tadi kamu dari gereja langsung kesini?" Ujar Delisa bermaksud memecah keheningan yang kian menyiksa rasa bersalah Delisa. 

        Tak ada reaksi apa pun dari Nana. Dia hanya diam terbaring, tetap menatap kosong langit-langit kamar. 
         Delisa benar-benar menyesali tindakanya. Bukankah mulutnya sekarang tak ubahnya pedang yang mampu mengoyak saudaranya sendiri? Seharusnya Ia ingat bahwa Nana akan menjadi sensitif bila ini menyangkut masalah kepercayaan. 

"Del.." Ujar Nana lirih, Ia mengubah posisinya yang semula menjadi duduk tegak menghadap Delisa. "Apa keluarga kalian. Suka mengaji bersama. Berdoa. Bahkan bangun di malam sepertiga itu?" 

Tatapan mata itu, Delisa sama sekali tak mampu melihatnya. Tega sekali aku membuat saudara ku tertusuk paku karat hingga membuatnya terluka sangat dalam. "Ng.. Ia. Na.." 

"Kalian juga sholat idul fitri bersama?" 

"Na.." Delisa tak bisa meneruskan jawaban itu, ia hanya mengeluarkan tatapan memohon dan rasa bersalah yang teramat. 

"Sepertinya iya.." Nana tertunduk, pelan sekali ia mengucapkan kata-kata itu. 

"Apa kau merindukannya Na?" tanya Delisa sangat hati-hati. 

"Bodoh! Apa kau berusaha mengejeku? Bagaimana mungkin aku merindukan sesuatu yang bahkan aku belum merasakannya sama sekali?!" 

        Pertahanan itu runtuh. Nana yang tertunduk mulai meneteskan pedih yang selama ini ia tahan. Ia sama sekali tak mengerti apa yang terjadi dalam dirinya, saat itu ia hanya ingin mengeluarkan sesuatu yang membuatnya terhempas begitu dalam. 

*  *  *  *  *  *  

"Oo.. Sudah kamu sediain minum dulu sana suami mu, oh ya di kulkas juga ada puding buatan mba kemarin. Barangkali dia mau" 

"Baik mba' " Mama langsung saja mengambil sebuah cangkir yang tertata rapi sedemikian rupa dalam lemari kaca. 

"Loh kamu sedang tidak puasa Ri?" tanya Mba Dina begitu melihat dua piring keci berisi puding diatas meja makan. 

"Egak mba' ini buat Nana, dia sedang tidak puasa." 

"Ya sudah cepat sana. Bantu mba kalau sudah selesai" 

Mama melangkah menuju pintu kamar bercat biru muda di depanya sambil membawa nampan berisi dua piring kecil puding dan satu cangkir berisi es teh manis. 
Mama menaruh nampan itu di meja yang berada dekat pintu itu agar bisa membuka pintu yang tertutup. Namun, mama lebih tertarik mendengarkan sedikit apa yang dibicarakan oleh putrinya sendiri. Hingga ia mengurungkan niat dan memutuskan menunggu untuk mendengarkan sebentar. 

"Apa keluarga kalian. Suka mengaji bersama. Berdoa. Bahkan bangun di malam sepertiga itu?" 

"Ng.. Ia. Na.." 

Mama sudah mengerti arah dari pembicaraan ini. Sesak sekali mendengar putrinya menanyakan sesuatu yang bahkan mungkin ia tak pernah bisa ia berikan. Papa yang sedang berjalan menuju dapur tak sengaja melihat mama pucat pasi di depan pintu biru muda itu, langsung berjalan menghampiri istri tercinta. 

"Ma? kena.." 

Belum usai papa mengajukan pertanyaan mama sudah memberikan isyarat agar papa diam, dan agar dapat mendengarkan percakapan putrinya. 

"Apa kalian juga sholat idul fitri bersama?" 

"Na.." 

"Sepertinya iya.." 

"Apa kau merindukannya Na?" 

"Bodoh! Apa kau berusaha mengejeku? Bagaimana mungkin aku merindukan sesuatu yang bahkan aku belum merasakannya sama sekali?!" 

Bahkan dari daun pintu pun suara isakan Nana yang menyesakan dapat terdengar. Mama sama sekali tak mampu menahan air matanya mengalir. Deras sekali. 
Mama menatap papa dengan pandangan meminta, memohon, bahkan mengiba. 

"Mengapa kau menatap ku seperti itu? Apa yang kau harapkan? Maaf aku tidak dapat mengkhianati Tuhan ku lagi untuk kali ini." 

Perkenalan Diri :)

Well.. ini mungkin terlambat untuk perkenalan diri mengingat blog ini di buat 2011. -__-' ah oke ini blog ke dua gue, setelah blog pertama gak bisa di buka karna ulah tangan jail :/
Oke oke gak perlu lama-lama.
Nama gue yaa orang-orang sih biasa panggil gue pake Ning doang.
gue lahir dengan selamat dari rahim bidadai tercantik sejagat pada tahun 1995. Gue anak pertama dari dua adik laki-laki yang resek itu-__-"
mungkin kalo digambarkan gue sama adek gue tuh kayak gini :





ADEK KURANG AJARRR!!! err...


Mungkin suatu saat gue bakal ngelakuin ini. hmm..



Lupakan tentang dua makhluk itu.. -__-"
Well... Tujuan gue sendiri buat blog ini adalah membuat pengalaman gue atau temen yang gak banyak menjadi sebuah cerpen. Mungkin nanti gue juga bakal copas dari Fans Pagenya Darwis Tere Liye :)
Gak ketinggalan tips-tips yang mungkin bakalan berguna nantinya bagi para pembaca gue. 

Gue rasa ini cukup. Dan jangan lupa di comment ya kalo kamu merasa artikel yang gue buat itu bermanfaat.
So.. thank's for reading :)